jump to navigation

Masyarakat Parimo Tolak Proyek Sawit Desak Pemkab Parimo Cabut Izin Perusahaan Juli 30, 2016

Posted by walhisultengnews in Tak Berkategori.
trackback

PARIMO – Puluhan Masyarakat dari beberapa Kecamatan di Wilayah Kab. Parigi Moutong (Parimo) yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Adat Nuasantara (AMAN) Kab. Parimo menyatakan menolak proyek Kelapa Sawit di daerah ini. Penolakan ini mereka sampaikan kepada pihak DPRD Parimo melalui rapat dengar pendapat, Jum’at (29/7).  Upaya penolakan masyarakat terhadap proyek sawit itu juga dibackup oleh Aliansi Gerakan Reforma Agraria (Agra) dan AMAN Sulteng.

Koleksi Foto Pohon Kelapa Sawit

Sumber : http://koleksi-foto-gambar.blogspot.co.id

Masyarakat yang merupakan perwakilan dari beberapa Kecamatan yang menjadi saran proyek sawit diantaranya Kecamatan Ampibabo, Toribulu, Siniu dan Kecamatan Tinombo Selatan secara tegas menyampaikan dua tuntutan, yakni menolak masuknya perusahaan yang mengelola kelapa sawit di wilayah Kabupaten Parimo dan tuntutan kedua mendesak Pemkab Parimo agar segera mencabut izin operasi atau izin penanaman sawit di Wilayah Kabupaten Parimo.

Salimun yang merupakan pengurus AMAN Parimo mangatakan, Kab. Parimo  selama ini sudah sangat dikenal dengan dua icon tanaman perkebunannya yakni kakao dan Kelapa Dalam, yang secara turun temurun dipertahankan budidayanya oleh masyarakat Parimo dalam meningkatkan Perekonomian masyarakat.

Namun, anehnya kata Salimun, Pemkab Parimo dengan mudahnya melakukan disverifikasi tanaman perkebunan tersebut ke Kelapa Sawit tanpa mempedulikan kearifan local, yang selama ini sudah terbangun. Selain itu, tandas Salimun, dalam beberapa tahun terakhir Pemerintah Pusat mengucurkan dana triliun rupiah Ke Kab. Parimo dalam rangka Program Gerakan Nasional (Gernas) kakao, dalam rangka pengembangan tanaman kakao di Daerah ini. Namun anehnya kata Salimun Pemkab Parimo justru mengganti pengembangan tanaman yang sudah didanai oleh APBN dan APBD tersebut dengan Sawit.

“Berarti sama halnya Pemerintah Daerah membuang-buang biayah yang juga bersumber dari uang rakyat yang digunakan untuk pengembangan tanaman kakao. Saya juga mempertanyakan kepada ketua DPRD atau komisi yang menanganinya apakah program sawit ini masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kab. Parigi Moutong. Jika tidak masuk Program RPJMD, berarti program sawit ini adalah program siluman. Sehingga izin usaha perkebunan Kelapa sawit yang sudah dikeluarkan oleh Bupati Parigi Moutong harus dicabut,” tegasnya.

Hal senada disampaikan oleh Akmal dari Agra Sulteng. Dia mengungkapkan, program sawit merupakan program Nasional oleh Presiden Joko Widodo yang tidak boleh ditolak karena adanaya intervnesi Asing. Menurutnya, indonesia belum sepenuhnya merdeka karena pengelolaa sember daya alamnya masih dikuasai oleh investor asing. Berdasarkan data dari pengembangan sumber daya alam Sulteng, hingga tahun 2020 ditergetkan penanaman Kelapa Sawit  di Sulteng mencapai dua juta hektar. Sedangkan Wilayah Kab. Parimo mulai dari Kecamatan Parigi Utara hingga keperbatasan Kabupaten Tolitoli kemungkinan akan menjadi wilayah proyek sawit.

 Akmal menyorot dua perusahaan Kelapa Sawit yang saat ini mulai beroperasi di wilayah Kab. Parigi Moutong yakni PT Agri Toribulu Asri dan PT Ampibabo Agro Lestari dengan luas areal sawit mencapai 26 ribu hektar lebih, yang tersebar di empat wilyah kecamatan. Kahadiran dua perusahaan itu katanya akan mengambil tanah adat dan tanah petani, mulai dari pinggir pantai hingga pinggir gunung.

“Bangun Rumah, bangu Kantor Dewan  yang megah ini bukan dari sawit, tapi dari pendapatan pajak rakyat yang tanam kelapa dan kakao,” tegasnya.

Ungkapan juga disampaikan perwakilan petani pemilik lahan.mereka menyatakan kehadiran perusahaan sawit itu hanya akan menyengsarakan rakyat, karena akan mengambil tanah milik petani dan penebang seluruh tanaman didalamnya. Dengan sistem pembagian 70-30, yakni 70% untuk perusahaan dan 30% untuk pemilik lahan, dinilai sangat merugikan Petani karena selama ini petani bisa menghasilkan  jutaan rupiah perhektar dari hasil tanaman kakao atau kelapa. Sedangkan bila digunakan untuk tanaman sawit, petani belum mendapatkan penghasilan sebesar itu, bahkan harus menunggu hingga beberapa tahun kedepan setelah sawit panen.

Sementara itu, Kepala bidang Usahan Perkebunan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Parimo, Hengky Idrus mengatakan, saat ini ada delapan perusahaan sawit yang masuk ke Kab. Parimo sejak tahun 2011 hingga 2014. Dari delapan perusahaan itu, enam diantaranya memiliki Izin Usaha Perkebunan (IUP), sedangkan dua lainnya masih mengantongi izin lokasi.

Menurut Hengky, Pemkab Parimo bertindak sebagai fasilitator yang menghubungkan pihak perusahaan dengan pemilik lahan, sehingga tidak benar jika dikatakan Pemkab parimo lebih berpihak kepada pamilik perusahaan. Kegiatan pengelolaan sawit di kabupaten Parimo, kata Hengky, 100% sistem plasma murni, sehingga perusahaan sawit itu bisa jalan bila masyarakat mau menyerahkan lahan miliknya kepada pihak  perusahaan.

“Jika ada Perusahaan yang memaksa atau merusak tanaman masyarakat laporkan kepada polisi. Perusahaan tidak berhak melakukan pemaksaan karena pengelolaan sawit di daerah ini sifatnya plasma murni. Masyarakat berhak menetukan tanaman yang akan dikelolanya sendiri tanpa ada pemaksaan dari pihak lain,” ujar Hengky.

Hengky menambahkan, pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap delapan perusahaan sawit di Parimo, termasuk dua perusahaan sawit PT Agri Toribulu dan PT Ampibabo Agro Lestari. Menurutnya ada catatan-catatan khusus pada dua perusahaan itu, yang bila dinilai kegiatan dianggap menyalahi prosedur maka akan direkomendasikan izin usaha dicabut.

Menanggapi persoalan sawit itu, ketua DPRD Parimo, Santo yang memimpin rapat dengar pendapat menyatakan bahwa DPRD Parimo akan membentuk Pokja untuk menelusuri persoalan tersebut. Selanjutnya hasil kerja Pokja akan dilaporkan kepada Bupati Parimo, apakah proyek sawit di Parimo layak diteruskan atau tidak. Rencana pokja tersebut akan dibentuk dalam waktu dekat ini. (aji)

Sumber : Radar Sulteng*Sabtu, 30 juli 2016

 

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: