jump to navigation

Pembalakan Hutan di Morut Meresahkan Juli 25, 2016

Posted by walhisultengnews in Tak Berkategori.
trackback

MORUT – Pembalakan terus terjadi dan hampir masif diwilayah Kecamatan Petasia Barat, Kabupaten Morowali Utara (Morut), Sualawesi Tengah. Warga khawatir, perambahan hutan hingga kekawasan hutan lindung ini akan memicu kehancuran hutan alam setempat. Bahkan saat ini, infrastruktur jalan telah rusak akibat telah dilalui truk pengangkut kayu.

Berdasarkan penelusuran Radar Sulteng, kamis(21/7) bersama seorang tokoh adat desa Tiu, Alen Lareso. Kurang lebih 9 kilometer dari Desa Tiu, perjalanan menggunakan sepeda motor itu sampai juga di kawasan perkebunan kelapa sawit seluas 400 hektar milik PT Esia 1, anak perusahaan  PT. Astra Group. Dengan berjalan kaki sekitar 700 meter, perjalanan di lanjutkan menuju kebun, Sawit milik  Alen Lareso. Dari kejauhan, tumpukan bayangan kayu tebangan baru mulai terlihat.

Polisi Tangkap Sembilan Pembalak Liar  

ilustrasi gambar sumber:tempo

Baru saja memasuki kebun itu, kayu-kayu bermacam ukuran dan jenis mulai menghiasi jalan setapak di dalamanya. Ada di jadikan alas pijakan, sementara kayu bermutu baik masih tergeletak menunggu diseret keluar kebun. Berjalan lebih kedalam, pemandangan yang masih terlihat. Sekitar 30an meter dari pondok pertama di samping jalan masuk kebun tokoh adat, suara para pembalak itu mulai terdengar dari pondok kedua di kebun itu. Rupanya menurut Alen, pondok itu dibuat sebagai Kamp oleh 11 orang pelaku yang berasal dari Desa Bo’e, pendolo, Kec. Pamona Selatan Kab. Poso.

Dari pengakuan beberapa orang tersebut, karena hujan mereka terpaksa istrahat lebih lama dari kebiasaan. Lagi pula, katanya, Jumat itu adalah hari terakhir  mereka beraktifitas. “kami mau pulang kampung untuk perayaan padungku. Syukuran hasil panen padi. Nanti kami kembali kesini minggu depan

Untuk membuktikan adanya pembalakan dan perambahan hutan lindung, penyusuran melalui jalur setapak dilakukan dengan perlahan. Potongan-potongan balok dan papan sepanjang 4 meter masih terlihat bejejer sepanjang jalan itu. Dibeberapa titik sepanjang jalan, tampak terpasang pelepa Sawit berduri yang fungsinya untuk meringankan tugas penarik membawah hasil tebangan keluar hutan,

Menurut pengakuan seorang penarik kayu di lokasi tersebut, mereka mulai bekerja sejak beberapa pekan sebelumnya. Kehadiran kelompok ini di Petasia Barat atas ajakan seorang yang disebutnya sebagai Bos. Oknum itulah kemudian membeli kayu hasil tebangan untuk dijual ke Sulawesi Selatan. Kami dari Bo’e datang kesini karena ajakan Pak Bos. Masing-masing kita punya tugas, empat operator chansaw, tujuh orang lagi bekerja  sebagai penarik kayu,” kata pria yang menyebut identitasnya sebagai papa  Epong.

Papa Epong yang tetap tidak menyebut identitas Bos yang  dimaksudnya itu mengaku kayu jenis Kumea yang dijual kubikan,  ini dihargai Rp 1,4 juta. Untuk jenis lainnya seperti kayu merah dijual jauh lebih murah. Untuk pembagiannya, para penarik mendapat upah Rp 550 ribu perkubik. Sementaera operator atau penebang pohon mendapat upah lebih banyak setelah dipotong biayah operasional chansaw. “Upah tarik kayu masih kita bagi tuju orang. Tapi lumayan, hasilnya cukup besar. Dua minggu lalu pas pulang kampung, saya bisa kumpulkan hampir dua setengah juta rupiah,” katanya.

Sama seperti mereka, dia mengku pembeli itu lebih suka kayu jenis Kumea yang katanya cocok dijadikan bahan ramuan rumah karena terbukti tidak dimakan rayap. “Kalau di Sulsel, kemungkinan besar harga per kubik Kumea ini bisa sampai lima Juta Rupiah, bahkan lebih. Karena menurut Bos, dalam proses pengiriman kayu ke Sulsel dia harus mengeluarkan biaya pengamanan sampai dengan dua juta rupiah. Itu tidak termasuk ongkos angkut,” bebernya.

Ditanya kapan terakhir sang Bos datang membayar hasil tebangan itu, Papa Epong mengingatnya terjadi pada Kamis sore (20/7). Meski sudah mendapat larangan dari pemilik kebun, Papa Epong mengaku akan kemabli ke Petasia Barat bersama kelompoknya.

“Setelah Padungku, pak Bosa minta kami datang lagi. Tapi tidak tahu apa masih dilokasi ini atau pindah tempat. Nanti alat kerja dan sebagian pakaian kita tidak bawa pulang,” aku papa Epong lalu melanjutkan pekerjaannya. Seperti keluhan banyak Warga di Kec. Tersebut, Alen mengaku paling dirugikan. Alasannya jalan produksi PT Esia 1 yang menjadi akses satu-satunya mengangkut tandan buah segar (TBS) sawit dari kebunnya rusak sekitar 700 meter.

Sudah empat bulan sejak jalan itu rusak, sawit saya tidak bissa lagi manen. Sopir yang mobilnya sering saya sewa menolak karena alasan kerusakan jalan ini,” ujar Alen. Sejak kerusakan itu, Alen mengaku punya 350 pohon sawit produksi sudah merugi hingga jutaan rupiah tak hanya itu,dia juga mengaku sudah tertipu seseorang yang banyak menglaim punya izin pengelolaan kayu di sekitar kebun sawitnya. Padahal setahu Alen, Area yang dimaksud orang itu adalah kawasan hutan lindung.

“Kata Orang PT. Astra, sebagai kebun saya ini masuk areal kawasan hutan lindung. Buktinya sudah kita simpan. Makanya PT. Esia itu menyorong kawasan kebunnya keluar dari hutan ini. Tapi saya juga heran kenapa ada izin pengolahan kayu terbit di atas kawasan itu,” jelasnya. (ham)

sumber: Radar Sulteng ,25 juli 2016

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: