jump to navigation

Parigi Moutong Terapkan Moratorium Pembalakan Agustus 31, 2010

Posted by walhisultengnews in BERITA PUBLIK DAN KEBIJAKAN.
trackback

Palu, Kompas – Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, memutuskan melakukan moratorium terhadap aktivitas pembalakan dan pemanfaatan kayu. Penyebabnya, kegiatan penebangan kayu telah tidak terkendali dan menyebabkan rusaknya lingkungan serta memicu banjir parah tiap tahun.

Bupati Parigi Moutong Longki Djanggola, Senin (30/8), mengatakan, salah satu penyebab banjir di wilayahnya beberapa tahun terakhir adalah tidak terkendalinya penebangan kayu di hutan lindung dan hutan produksi.

Tiga tahun terakhir, banjir rutin melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Parigi Moutong. Dengan iklim yang tidak menentu dan hujan yang terjadi kapan saja, intensitas banjir kian tinggi. Banjir bandang tak hanya merusak rumah warga, tetapi juga lahan pertanian, termasuk areal yang dikelola para transmigran dari Pulau Jawa.

Keberadaan transmigran terkait erat dengan posisi Parigi Moutong sebagai sentra beras Sulteng. Lebih dari 250.000 ton gabah kering giling diproduksi daerah ini tiap tahun dengan surplus lebih dari 100.000 ton beras. Lebih dari 50 persen pengadaan Bulog Sulteng untuk program beras warga miskin dipasok dari Parigi Moutong.

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Parigi Moutong, Mukramin mengatakan saat ini di wilayahnya terdapat lima izin pemanfaatan kayu (IPK) yang meliputi 291 hektar serta izin pemanfaatan kayu hutan hak/rakyat (IPKHH/R) seluas 77 hektar.

”Aktivitas mereka kami hentikan sementara untuk melihat kondisi di lapangan. Setelah itu, akan dievaluasi bagaimana kelanjutannya. Moratorium ini berlaku untuk pemanfaatan kayu di hutan alam serta kayu yang ada di kebun milik perseorangan, tetapi pohonnya tidak ditanam sendiri. Moratorium ini tidak berlaku untuk tanaman kayu yang ditanam sendiri,” kata Mukramin.

Areal yang tercakup dalam perizinan tersebut berada di luar kawasan hutan Kabupaten Parigi Moutong yang luasnya sekitar 350.000 hektar. Dari 350.000 hektar hutan itu, sekitar 100.000 hektar adalah hutan lindung, kawasan konservasi 30.000 hektar, dan sisanya hutan produksi.

Saat ini sekitar 70.000 hektar dari 350.000 hektar hutan di Parigi Moutong berada dalam kondisi kritis. Umumnya hutan-hutan itu berisi pohon kayu eboni (kayu hitam), tanaman endemik Sulteng.
Menurut Mukramin, waktu moratorium yang belum diputuskan hingga kapan akan dimanfaatkan untuk melakukan rehabilitasi hutan, terutama di kawasan yang kritis.

-Sumber: Kompas, 31 Agustus 2010, Halaman 22-

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: