jump to navigation

Surat Dukungan George Junus Adidjondro Juni 28, 2010

Posted by walhisultengnews in KAMPANYE WALHI SULAWESI TENGAH.
trackback

Surat Dukungan Untuk Kriminalisasi Petani Luwuk Banggai,

Salam Kedaulatan Rakyat buat saudaraku semua!

Dengan penuh rasa haru dan rasa bangga saya mengikuti perjuangan saudara sekalian, yang bersama kami yang berada di ‘penjara raksasa’ yang bernama Republik Indonesia, berusaha menegakkan kedaulatan rakyat yang terkikis oleh kedaulatan korporasi-korporasi konglomerat, yang lebih dihormati oleh para pemangku jabatan publik.

Rasa haru, membayangkan saudari dan saudara-saudaraku, yang dipisahkan secara paksa dari suami, isteri, anak-anak, serta segenap kerabat dan sahabat, selama sebulan ini. Tapi rasa haru itu segera diganti rasa bangga, melihat orang muda didikan kampus, seperti Eva Bande, dan kawan-kawan aktivis petani, Nasrun, Arif, serta 21 kawan lain yang belum kuketahui namanya, yang tidak bersedia tunduk pada persekongkolan antara Negara dan PT Kurnia Luwuk Sejati, yang menginjak-injak kedaulatan rakyat pedesaan di Kabupaten Banggai dan Morowali, Sulawesi Tengah.

Saya bangga melihat kawan-kawan tidak menyerah, menghadapi kekuasaan perkebunan kelapa sawit PT Kurnia Luwuk Sejati (KLS) milik Murad Husain bersama isterinya, Ny. Silvia Maindo, anak mereka, Rahmawati Husain, dan seorang perempuan, Jamalia Ningsih. Soalnya, perusahaan ini melakukan ekspansi secara ilegal, tanpa izin Dirjen Perkebunan, sebagaimana diharuskan oleh UU No. 18 Tahun 2004. Luas izin HGU yang diberikan kepada PT KLS sudah cukup luas, yakni 6010 hektar. Namun melalui perusahaan kongsinya dengan Perhutani I, PT Berkat Hutan Pusaka (BHP), PT KLS menguasai HTI seluas13 ribu hektar, lebih dari dua kali lipat izin HGU mereka semula. Bahwa ini merupakan perbuatan melanggar hukum dapat dilihat dari penetapan Murad Husein sebagai tersangka oleh Polres Banggai, Maret lalu.

Akibat ekspansi ilegal dwitunggal PT KLS dan PT BHP, alat-alat berat PT KLS sudah merusak tanaman rakyat di areal ekspansi perkebunan kelapa sawit itu. Perampasan tanah rakyat yang berlangsung sejak September 2009, semula diprotes secara damai oleh Persatuan Petani Singkoyo dan Serikat Tani Piondo, serta Front Rakyat Advokasi Sawit (FRAS).

Makanya, saya dapat memahami, bagaimana kawan-kawan, setelah berbagai aksi damai tersebut tidak diindahkan oleh fihak perusahaan, yang malah mengizinkan 350 personil TNI/AD melakukan ‘latihan perang-perangan’ di tanah rakyat, pada hari Rabu siang, 26 Mei lalu, membakar alat-alat berat dan base camp PT KLS, serta menebangi tanaman kelapa sawit di lahan petani di Desa Bukit Jaya, dekat Desa Piondo.

Sementara saudara-saudaraku masih mendekam dalam tahanan, belum ada langkah hukum diambil terhadap Murad Husein, walaupun pelanggaran hukum yang dilakukannya sudah berlapis-lapis, yang dalam waktu dekat akan diangkat oleh Komnas HAM ke tingkat nasional, mulai dari perubahan status PT KLS dari HTI menjadi HGU secara ilegal, penyerobotan tanah rakyat, penempatan ribuan ternak sapi di tanah HGU, penggunaan preman untuk mengintimidasi para petani yang sekedar mempertahankan hak-hak tanah mereka, serta berbagai pelanggaran hak-hak asasi manusia.

Pengaruh politik dan ekonomi pengusaha asal Sa’dan itu di dua provinsi Sulawesi Tengah, luar biasa kuatnya, berkat kekayaannya yang sering digunakan secara sangat lihai. Bekas Bendahara DPD Golkar Sulteng, pernah menukarkan uang pribadinya sebanyak US$ 5 juta dengan kurs Rp 5.000, mengikuti anjuran Presiden Suharto ketika krisis ekonomi menyerang Indonesia tahun 1997/98.

Di kampung halamannya di Provinsi Sulawesi Selatan, pengusaha berdarah Toraja dan Duri itu tidak kalah hebat pengaruhnya. Tahun lalu, pengusaha yang punya sejumlah rumah mewah di Sa’dan, Toraja Utara (berharga sekitar Rp 3 milyar), di kompleks Panakukkang Mas, Makassar (sekitar Rp 5 milyar), Palu (sekitar Rp 3 milyar), Luwuk (sekitar Rp 2 milyar) , dan Jakarta, serta kuburan keluarga yang mewah di Sa’dan, menjadi donor tunggal Perayaan Natal Sang Torayan di Sa’dan.

Sebelumnya, di bulan Agustus 2008 ia membagi-bagi uang ratusan di lapangan Kodim di Rantepao, dalam rangka pesta Ma’lettoan, yang dikaitkan dengan keberhasilan pemekaran Kabupaten Toraja Utara. Pesta itu diselenggarakan oleh Murad secara sefihak, tanpa permisi dengan Pj. Bupati Toraja Utara, J.S. Dalipang, namun dengan restu Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo.

Pengaruh politik Murad Husein, yang berasal dari tongkonan Kandean, telah tampak dengan mendukung pengorbitan seorang keponakannya, Ir. Sri Khrisma (“Isma”) Pirade’ (lahir, 1972) menjadi Ketua DPRD Toraja Utara. Acara pemilihan itu sendiri bukan diselenggarakan di Rantepao, melainkan di Makassar, berkat kedekatan Murad dengan Gubernur Sulsel, yang ditengarai menghabiskan lima milyar rupiah untuk biaya transportasi, akomodasi di hotel berbintang, dan biaya-biaya lain.

Walaupun kepentingan bisnisnya di Toraja Utara belum tampak, Murad juga berusaha mengorbitkan orang kepercayaannya untuk menduduki kursi Bupati di Rantepao, dengan dukungan Golkar dan Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo.

Di Sulawesi Tengah, bisnis Murad Husein sudah melebar dari kelapa sawit ke bisnis lain, dan dari Banggai ke kabupaten lain, seperti Morowali dan Tojo Una-una. Di Kecamatan Toili, Banggai, Murad mendirikan pompa bensin yang mendapat BBM bersubsidi dari Pertamina, yang lebih banyak dimanfaatkan untuk kendaraan perusahaannya, ketimbang untuk kendaraan umum.

Perusahaan konstruksi milik keluarga Murad, PT Kurnia Sulawesi, dan berkantor di rumah Murad di Jalan Juanda, Palu, terlibat dalam pembangunan berbagai proyek konstruksi di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan. Seperti pembangunan ruas jalan Palu-Poso di Kebun Kopi, pada pertengahan 1990an, pembangunan jalan antara Kolonedale dan Baturube, sebelum dihentikan karena protes WALHI mengingat jalan itu melintasi suaka margasatwa Morowali, serta pembangunan kantor Bupati Luwu Utara di Masamba, Sulawesi Selatan.

Selain itu ada Murad telah membuka beberapa peternakan ribuan ekor sapi di beberapa lokasi. Satu lokasi di lahan HGU PT KLS di Singkoyo, Kecamatan Toili. Satu lagi di Hunduhon di Kecamatan Luwuk Timur. Sapi-sapi itu dilepas begitu saja di areal HGU. Walaupun diduga peternakan sapi itu belum mendapat izin Dinas Peternakan, dan dapat mengganggu keamanan dan kenyamanan penduduk dan tanam tumbuh mereka, ada rencana memperluas areal peternakan itu ke Morowali Utara.

Itu sebabnya, Murad mendukung rencana pemekaran Kabupaten Morowali Utara dari Kabupaten Morowali sekarang, dengan dukungan pimpinan salah satu PTN di kota Palu. Untuk itu, ia menalangi pembangunan jalan ke Baturube, calon ibukota Morowali Utara, dari kantongnya sendiri. Sedangkan di Ampana, ibukota Kabupaten Tojo Una-una, Murad ditengarai mendukung seorang calon bupati yang dapat mengfasilitasi ekspansi perkebunan PT KLS ke sana.

Namun saat ini, walaupun punya preman yang sudah pernah dikerahkan untuk melawan kalian, dengan penahanan para aktivis petani dan kaum terpelajar di Banggai ini, yang semakin menjadi sorotan Komnas HAM, pengusaha asal Sa’dan yang sibuk memperkokoh basis politik di Sulawesi Selatan dan Tengah, pelanggaran-pelanggaran hukum yang dilakukan Murad Husein, tidak lagi dapat disembunyikan di balik tembok media lokal yang sudah dikooptasi. Selain itu, para pimpinan Golkar di Palu dan Jakarta, serta aparat keamanan di Jakarta, tidak dapat terus menerus menutup-nutupi berbagai pelanggaran hukum yang selama bertahun-tahun dijalankan oleh Murad.

Makanya, tetaplah tegar, Eva Bande, Nasrun, Arif, dan kawan-kawan sekalian yang masih mendekam dalam tahanan Polres Banggai. Aksi-aksi kalian telah membuka kotak Pandora berbagai pelanggaran hukum yang dilakukan Murad Husein, mulai dari pelanggaran hukum lingkungan, pelanggaran HAM, dan pelanggaran undang-undang anti monopoli. Kawan-kawan yang bergerak di penjara raksasa, sedang terus berjuang agar kalian bisa segera berganti tempat dengan pengusaha raksasa yang kalian lawan. Semoga Tuhan terus melindungi perjuangan kalian. Amin.

Akhirnya, senafas dengan kawan Eva, saya tutup surat solidaritasku ini dengan ucapan:

Hidup Rakyat Tani

Jayalah Kaum Tani

Bersatulah Rakyat

Salam,

George Junus Aditjondro

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: