jump to navigation

Pengusaha Sering Manfaatkan Celah Kekosongan Aturan Izin Lingkungan Juni 11, 2010

Posted by walhisultengnews in BERITA PUBLIK DAN KEBIJAKAN.
trackback

11/06/10 TEMPO Interaktif, Jakarta* – Peraturan Pemerintah tentang izin lingkungan sebagai turunan UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU No.32 Tahun 2009) yang belum ada sering, dimanfaatkan para pengusaha tambang.

“Sekarang ratusan izin pertambangan sudah dikeluarkan tanpa mengindahkan izin lingkungan,” ujar Manajer Hukum dan Kebijakan Wahana Lingkungan Hidup, Jumi Rahayu di Jakarta, Kamis (10/6).

Sesuai UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, setiap izin untuk pertambangan ataupun izin usaha, harus memiliki izin lingkungan sebelum memulai operasionalnya.

Tapi karena saat ini kondisinya masih ad interim (belum ada peraturannya), Jumi menambahkan, maka dimanfaatkan pemerintah daerah dan pengusaha untuk memuluskan izin usahanya. “Akibatnya kalau peraturan pemerintah nanti keluar, ratusan usaha justru sudah dimulai,” jelasnya.

Manajer Kampanye Sektor Tambang Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Pius Ginting memaparkan data dari laman fraser institute menunjukkan pemerintah Indonesia lemah dalam penegakkan hukum lingkungan. Survei yang dilakukan pada ratusan perusahaan pertambangan di dunia selama 2008-2009 membuktikan penegakan hukum lingkungan di Indonesia lebih lemah ketimbang Bolivia, Guetamala dan Kyrgistan. “CEO-CEO tambang itu menyimpulkan aturan
di Indonesia tidak kuat sehingga bukan alasan utama untuk tidak berinvestasi di Indonesia,” paparnya.

Perusahaan-perusahaan tersebut menilai selain hukum yang lemah, pengakuan terhadap tanah adat atau masyarakat di Indonesia masih kurang. “Akibatnya lihat saja, kawasan pertambangan selalu jadi bencana bagi masyrakat sekitar,” kata Pius.

Tapi pemerintah justru tahun ini masih memprioritaskan pendapatan dari
sektor pertambangan. “Targetnya justru 40 wilayah tambang per tahun,
terutama di Kawasan Indonesia Timur,” Ia menambahkan. Padahal kawasan tersebut justru kini sarat konflik dengan masyarakat lokal dan rentan kerusakan lingkungan.(Dianing Sari)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: