jump to navigation

Mafia Kayu Marak Lagi Juni 10, 2010

Posted by walhisultengnews in BERITA PUBLIK DAN KEBIJAKAN.
trackback

Mafia Kayu Marak Lagi
Jaringan Penyelundup Asing Pakai Kapal Induk di Laut Lepas

Kamis, 10 Juni 2010 | 04:39 WIB

Jakarta, Kompas – Mafia kayu asing terus mengincar kekayaan hutan Indonesia. Berbagai cara mendapatkan kayu ilegal dilakukan. Aparat penegak hukum telah menangkap kapal yang membuang sauh di tengah laut untuk menampung kayu merbau gelondongan dari Sorong dan Bintuni, Papua Barat.

Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan di Jakarta, Rabu (9/6), memberikan apresiasi terhadap aparat kepolisian yang telah bekerja sama, menyita dan menahan 16.000 meter kubik kayu di Papua sekitar tiga minggu lalu. Selain itu, aparat juga menahan 30.000 batang kayu gelondongan di Tarakan, Kalimantan Timur.

”Ilegal logging rupanya mulai bangkit kembali,” ujar Menhut.

Oleh karena itu, tim terpadu Kementerian Kehutanan, Kepolisian Negara Republik Indonesia, Kejaksaan Agung, dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kata Menhut, akan lebih menggencarkan operasi rutin. Ia juga meminta semua pihak mendukung penegakan hukum.

Direktur Perlindungan Kementerian Kehutanan Muhammad Awria Ibrahim menjelaskan, kapal bermuatan 8.000 batang kayu merbau ditangkap saat lego jangkar di laut lepas. Kapal tersebut berfungsi sebagai kapal induk penampung kayu gelondongan yang dibawa kapal berukuran lebih kecil dari lokasi.

Hal ini menunjukkan, mafia kayu internasional kembali beraksi dengan modus baru. Dari pemuatan kayu ke kapal yang bersandar di pelabuhan menjadi pemuatan kayu gelondongan di tengah laut.

Tim gabungan masih menyelidiki pelaku pembalakan liar di Papua Barat tersebut. Legalitas kayu diragukan karena hanya diklaim sebagai kayu yang telah ditebang tahun 2005.

”Kami menduga ini bukan tumpukan kayu yang tahun 2005, tetapi dokumen menyebutkan tahun 2005 (sisa operasi pembalakan liar besar-besaran). Kami sudah mengirim peneliti untuk mengecek kesegaran kayu, berapa lama sudah ditebang,” ujar Awria.

Papua dan Papua Barat pada tahun 2005 sempat menjadi sasaran mafia pembalakan liar asing yang bekerja sama dengan warga negara Indonesia. Kedua provinsi ini merupakan kawasan hutan dengan merbau sebagai tanaman endemik.

Permintaan kayu merbau yang tinggi, terutama dari China, membuat mafia kayu merajalela. Para pelaku pembalakan liar langsung mengapalkan kayu tersebut ke utara melalui perairan internasional.

Modus kayu rakyat

Tim terpadu penegakan hukum kehutanan juga menahan kayu ilegal di Tarakan, Kalimantan Timur. Pelaku mengangkut kayu meranti dan jenis lain dengan modus kayu rakyat untuk mengelabui aparat penegak hukum. Mereka menggunakan surat keterangan asal-usul (SKAU) yang dikeluarkan kepala desa, yang lazim dipakai untuk mengangkut kayu rakyat, seperti mangga, durian, atau sengon.

Ini membuat aparat curiga karena kayu meranti diangkut menggunakan SKAU. ”Mana ada di Kalimantan hutan rakyat yang masih berisi meranti. Ini harus diwaspadai. Selama ini sudah kondusif, sekarang mulai terjadi lagi dengan modus baru,” ujar Awria. (ham)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: