jump to navigation

KELAPA SAWIT : Moratorium Tidak Ganggu Ekspansi Juni 3, 2010

Posted by walhisultengnews in BERITA PUBLIK DAN KEBIJAKAN.
trackback

KELAPA SAWIT
Moratorium Tidak Ganggu Ekspansi

Kamis, 3 Juni 2010 | 04:35 WIB

Yogyakarta, Kompas – Wakil Presiden Boediono menjamin, moratorium pemberian izin baru penggunaan hutan alam dan lahan gambut mulai Januari 2011 tidak akan mengganggu pertumbuhan lahan kelapa sawit.

Pemerintah berkomitmen mendukung industri kelapa sawit dari hulu hingga hilir yang lestari. ”Pembangunan industri tersebut harus berkelanjutan sehingga harus menjaga keseimbangan. Lingkungan hidup harus tetap terpelihara,” kata Boediono saat membuka International Oil Palm Conference (IOPC) di Yogyakarta, Rabu (2/6). IOPC diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS).

Indonesia memproduksi 20,2 juta ton CPO tahun 2009 dari areal seluas 7,9 juta hektar. CPO adalah komoditas ekspor unggulan yang menghasilkan devisa 10 miliar dollar AS tahun lalu.

Keseimbangan dalam industri kelapa sawit, ujar Wapres, antara lain mencakup penggunaan lahan, struktur industri kelapa sawit, pemenuhan pasar dalam negeri dan luar negeri, dan perkebunan kecil dengan besar.

Untuk mendorong kemajuan industri kelapa sawit, pemerintah siap meninjau ulang serta mereformasi berbagai aturan. Hal itu guna memperlancar investasi kelapa sawit.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa meminta industri kelapa sawit tidak meresahkan kebijakan moratorium.

”Moratorium jangan mengerem pertumbuhan sawit. Yang penting industri sawit harus berkelanjutan. Tidak ada hal yang perlu dicemaskan,” ujar Hatta.

Ketua Panitia IOPC 2010 Yohanes Samosir menjelaskan, keterbatasan lahan untuk kebun kelapa sawit sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan karena produktivitas kelapa sawit masih bisa dimaksimalkan.

Produktivitas tanaman nasional masih 3,4 ton minyak kelapa sawit mentah (CPO) per hektar per tahun dan masih dapat dinaikkan menjadi 8 ton per hektar per tahun.

Di Jakarta, Direktur Utama PT SMART Tbk Daud Dharsono menegaskan komitmen membangun industri CPO lestari. SMART adalah industri CPO terintegrasi dengan lahan 500.000 hektar dan tengah menghadapi tudingan tidak bekerja lestari.

Daud menjelaskan, SMART telah berkomitmen hanya mengembangkan perkebunan di lahan yang tidak memiliki keanekaragaman dan nilai konservasi tinggi. Penanaman kelapa sawit di lahan rusak berdampak positif bagi penyerapan karbon.

Dari Pontianak, Ketua Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia (GPPI) Kalimantan Barat Ilham Sanusi mengungkapkan, pengusaha harus menanggung tambahan biaya Rp 200 miliar untuk mengekspor CPO ke pelabuhan lain karena ketiadaan fasilitas di Kalbar.

”Dari Kalbar, CPO yang akan diekspor itu harus dikirim dulu ke Belawan, Medan; Tanjung Priok, Jakarta; dan Tanjung Perak, Surabaya,” ujar Ilham.

Kalbar memproduksi 1 juta ton CPO per tahun dari 40 perusahaan perkebunan. Ilham menegaskan, sudah selayaknya Kalbar memiliki pelabuhan yang dapat mengekspor langsung CPO. (ARA/AHA/ham)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: