jump to navigation

Kemenhut Diminta tidak Tunda lagi Penertiban Vila Liar Mei 31, 2010

Posted by walhisultengnews in BERITA PUBLIK DAN KEBIJAKAN.
trackback

30/05/10 JAKARTA–MI:* Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dan seluruh tim gabungan aparat penegak terkait didesak untuk tidak lagi mengulur-ulur waktu dalam menertibkan vila-vila liar di atas kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS).

Lambatnya penanganan di sana akan menjadi model buruk bagi langkah penegakan pada kasus-kasus serupa di kawasan hutan konservasi lainnya di Indonesia.
Demikian disampaikan Juru Bicara Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Erwin Usman ketika dihubungi, Minggu (30/5). “Jika aparat memang konsisten menegakkan hukum, seharusnya Maret-April sudah selesai. Ini sudah sampai akhir Mei, baru beberapa vila saja yang dibongkar sendiri. Yang besar-besar masih ga berani disentuh,” ujarnya.

Erwin mengatakan, jika program penertiban di TNGHS tidak juga bisa
dilakukan, pihaknya menyangsikan penertiban lain di wilayah-wilayah lain
bisa terealisasi. Hal itu akan menjadi model perlawanan kekuatan-kekuatan
politik yang jelas-jelas melanggar hukum, tapi mereka ga kesentuh hukum.

“Lama-lama rakyat bisa marah. Di setiap taman nasional, kalau rakyat ambil
ranting langsung ditindak. Sedang di Halimun, orang-orang berpengaruh seakan
dibiarkan saja melanggar hingga tanah,” ujarnya.

Selain itu, imbuh Erwin, dalih Kemenhut untuk menunda penertiban terkait
masih kuatnya penolakan tidak kuat beralasan. Sebab, gelombang penghadangan
aksi penertiban saat ini diduga hanya dilakukan oleh ormas-ormas
paramiliter.

Mereka ini hanya pihak-pihak yang sebenarnya tidak punya kaitan langsung
dengan masyarakat setempat, namun dengan hanya para pemilik. Karena itu,
ujar Erwin, jika aparat gabungan yang terdiri dari Balai Taman Nasional,
Polri, kejaksaan, mau tegas, gelombang penolakan itu akan bisa teratasi
dengan mudah.

“Kita sudah mendengar pengakuan dari mereka (para ormas) sendiri. Kalau
aparat tegas, lengkap dengan senjatanya dan surat tugas pembongkaran, mereka
takut juga,” ujarnya.

Selain itu, hasil pantauan Walhi di lapangan menunjukkan, diduga kuat para
massa penghadang hanyalah massa bayaran. Karakteristik massa model begitu
adalah tidak ideologis dan tidak militan. “Mereka ini tidak semilitan petani
setempat, misalnya, yang berani mati di tanahnya sendiri demi hak-haknya,”
ujar Erwin.

Sebelumnya, Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Darori menyatakan
bahwa Kemenhut sedang menunggu momen yang paling tepat untuk membongkar
vila-vila ilegal di dalam kawasan TNGHS. Strategi ini ditempuh guna sebisa
mungkin menghilangkan peluang terjadinya bentrokan fisik dengan rakyat
setempat yang diindikasikan digunakan para pemilik vila sebagai tameng.

“Kita bukan mundur. Karena kalau dipaksakan kan nanti yang kita hadapi
justru bukan pemilik villa sendiri, tapi rakyat yang tidak bersalah,” dalih
Darori.

Menurut Darori, saat ini proses penegakan TNGHS masih dalam tahap penyidikan
oleh tim gabungan. Tim masih mengumpulkan data-data klarifikasi meliputi
barang bukti dan saksi-saksi di lapangan terkait nama-nama pemilik vila yang
telah diinventarisir diduga melakukan pelanggaran hukum.

Nantinya, ketika seluruh tahap penyidikan sudah dianggap siap dan clear,
barulah akan dilakukan proses pemanggilan dengan prosedur pengiriman surat
tiga kali. “Kita kumpulkan data dulu, yang punya siapa, di mana rumahnya,
lalu siapa yang bersedia jadi saksinya. Nanti kalau semua sudah clear, baru
kita panggil. Tiga kali surat pemanggilan tidak direspon, kita jemput
paksa,” ujar Darori. (*/OL-03)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: