jump to navigation

Penerimaan Pajak Tambang dan Pertanian Masih Rendah Mei 15, 2010

Posted by walhisultengnews in BERITA PUBLIK DAN KEBIJAKAN.
trackback

Penerimaan Pajak Tambang dan Pertanian Masih Rendah

Sabtu, 15 Mei 2010 | 05:10 WIB

Jakarta, Kompas – Wakil Presiden Boediono meminta Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati untuk lebih mencermati penerimaan sektor pajak dari pertanian dan pertambangan.

Sebab, hingga awal Mei penerimaan pajak dari dua sektor tersebut diakui masih rendah. Pajak Penghasilan (PPh) dari sektor pertanian dan pertambangan tercatat hanya Rp 8,8 triliun, padahal tahun lalu pada periode yang sama tercatat mencapai Rp 12,4 triliun.

Demikian juga Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari kedua sektor tersebut tercatat baru Rp 1,8 triliun, padahal pada periode yang sama penerimaan di sektor tersebut mencapai Rp 6,1 triliun.

”Penerimaan pajak di sektor pertanian dan tambang masih tidak mencerminkan penguatan,” ujar Sri Mulyani dalam keterangan pers bersama Hatta Rajasa seusai mengikuti rapat terbatas yang dipimpin Wapres Boediono di Istana Wapres, Jakarta, Jumat (14/5).

Untuk itu, tambah Menkeu, Wapres meminta untuk dipantau penyebab dan dicarikan jalan keluar agar penerimaan negara bisa tercapai sesuai target.

Menurut Hatta Rajasa, pihaknya diminta untuk mencermati penyebab dari penurunan penerimaan negara dari sektor pajak pertanian dan pertambangan.

”Apakah ini terjadi akibat dari konsolidasi dari beban-beban yang lalu. Ini yang harus dicermati. Seharusnya ini tidak terjadi mengingat harga-harga komoditas sekarang tengah meningkat dan produknya juga tinggi,” ungkap Hatta.

Jalan keluar dari masalah ini, tutur Hatta, adalah transparansi terkait jumlah produksi dan hasil penjualan komoditas tersebut.

”Kami akan meminta data ke Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan dan pemerintah daerah. Dari data itu akan kita lihat di mana hilangnya itu dan apakah penyebabnya. Inilah yang akan menjadi tugas Tim Pengamanan dan Pendapatan Negara yang akan dibentuk,” lanjut Hatta.

Terjadi surplus

Lebih jauh, Sri Mulyani menyatakan, kondisi keuangan negara di APBN-P 2010 cukup baik dan malah terjadi surplus. ”APBN-P 2010 saat ini posisi dana tunai pemerintah mencapai Rp 91 triliun, yang berasal dari surplus Rp 50,9 triliun dan pembiayaan Rp 40,1 triliun,” ungkap Sri Mulyani.

Menurut Menkeu, di masa datang pemerintah akan tetap menjaga momentum mengingat pada kuartal II tahun ini kondisi ekonomi masih cukup kuat.

Asalkan stabilitas fiskal dan moneter tetap harus dijaga terus oleh Bank Indonesia dari risiko krisis keuangan di Yunani serta dinamika di sektor Asia.

”Oleh sebab itu, proyeksi kuartal II dan III pertumbuhan ekonomi akan mencapai sekitar 6 persen atau lebih sedikit dari kuartal III. Ini menunjukkan pertumbuhan rata-rata per tahun akan di kisaran 5,8 persen,” ujar Sri Mulyani. (har)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: