jump to navigation

Keracunan Merkuri Belum Ada Obatnya Mei 10, 2010

Posted by walhisultengnews in BERITA PUBLIK DAN KEBIJAKAN.
trackback

Keracunan Merkuri Belum Ada Obatnya
10 Mei 2010
Harian Mercusuar

Sulit memisahkan kebergantungan penambang tradisional terhadap penggunaan air raksa atau merkuri untuk memisahkan material emas dari tanah. Padahal, menggunakan merkuri secara sembarangan menimbulkan risiko yang besar terhadap lingkungan dan kesehatan. Berikut ulasan yang terekam melalui pemutaran film dampak merkuri dengan mengambil sampel tambang rakyat di Gunung Pongkar, Desa Bantur Karet, Kecamatan Anggur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Film ini diputar di sela-sela Seminar Nasional tentang Pertambangan yang digelar di Auditoriun Universitas Tadulako, Sabtu (8/5). Seminar ini menghadirkan banyak tokoh tambang, akademisi dan LSM.

Oleh: Ardiansyah
Kegiatan pertambangan emas memang banyak memberi perubahan, baik dari sisi positif maupun negatif. Salah satu dampak positifnya yakni roda perekonomian pada masyarakat sekitar pertambangan bergerak lebih cepat, karena material yang dihasilkan bernilai tinggi. Namun, tanpa disadari di balik itu semua para penambang sesungguhnya sedang diancam oleh bahaya yang tidak bisa dianggap enteng.
Batu emas yang diolah dengan menggunakan tong bertenaga diesel, yang kemudian dicuci dengan merkuri hingga menghasilkan bahan emas, sesungguhnya mengancam tubuh mereka, apalagi jika mencuci batu berbahan emas itu tanpa menggunakan sarung tangan.
Padahal, merkuri merupakan jenis logam berbahaya, sebab tidak dapat terurai dan terus mengendap dalam tanah, air, bahan makan, hewan tumbuhan dan lain sebagainya.
Keracunan merkuri dikenal dengan penyakit minamata, yang telah menyebabkan lebih dari 200 ribu orang di Jepang menderita penyakit ini. Penyakit ini dapat menimpa seseorang apabila bahan merkuri masuk melalui pori-pori, makanan, minuman, maupun pernapasan. Di Indonesia, penyakit ini juga telah ditemukan, terutama terhadap orang-orang yang menggunakan merkuri dengan tidak berhati-hati.
Ciri yang sangat nampak pada orang yang keracunan merkuri, yakni sulit berjalan secara normal, tidak bisa menulis, sariawan berkepanjangan, kaki dan tangan sering kesemutan, sulit berbicara dan melihat, gemetaran, dan yang terparah adalah menimbulkan kelumpuhan hingga kematian.
Dampak lain yang ditimbulkan dari keracunan merkuri dalah susah tidur, rasa dingin pada kaki dan tangan, sering menabrak tiang, tidak dapat mencium bau, sering lupa, kurang tenaga atau lemas, mati rasa, sulit menggunakan sendok, gangguan pendengaran, sering sakit kepala, dan sulit menggunakan sandal.
Penyakit seperti ini bisa juga menyerang orang yang tidak ada kaitannya dengan aktivitas pertambangan. Itu terjadi jika material bekas olahan merkuri dibuang pada tempat yang mudah dijangkau oleh masyarakat seperti pada sungai, kolam, tanah serta udara melalui pembakaran.
Untuk mengurangi risiko keracunan merkuri, sebaiknya tidak menggunakan merkuri. Bila tidak dapat digantikan, maka kita dapat mengurangi resiko keracunan dengan menggunakan cara bijaksana serta hati-hati. Beberapa cara yang perlu dilakukan, diantaranya menggunakan sarung tangan untuk menyentuh cairan merkuri, penurup hidung dan mulut pada saat pembakaran, tidak membuang sisa olahan pada badan air dan tanah, dan meletakkan sisa olahan pada tempat yang beralaskan lantai.
Memang banyak penambang tradisional yang tidak mengetahui bahaya penggunaan merkuri secara tidak teratur. Penghasilan dari usaha bertambang memang tidak sedikit, namun harus disadari bahaya yang ditimbulkan sangat besar. Bisa jadi seorang penambang yang keracunan merkuri atau minamata akan mengeluarkan biaya yang lebih besar dari penghasilannya menambang emas, karena sampai dengan saat ini belum ada obat yang bisa menyembuhkan keracunan merkuri. ***

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: