jump to navigation

Pertambangan RI Diminati Mei 3, 2010

Posted by walhisultengnews in BERITA PUBLIK DAN KEBIJAKAN.
trackback

Pertambangan RI Diminati
Menperdag Dikerubungi Saat Pertemuan Forum Bisnis di Shanghai

Senin, 3 Mei 2010 | 03:28 WIB

Shanghai, Kompas – Para pengusaha China paling berminat melakukan investasi di Indonesia, khususnya di sektor pertambangan dan infrastruktur. Ada sektor lain yang diminati, seperti bisnis mebel dan rumput laut, tetapi sektor pertambangan adalah yang paling menonjol.

Para pengusaha China ini menunjukkan antusiasme dengan mengerubungi Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa pada pertemuan forum bisnis Indonesia-China di Shanghai, China, Sabtu (1/5) malam.

Wartawan Kompas Simon Saragih melaporkan dari Shanghai, China, pertemuan di Hotel Gand Melia Shanghai tersebut dilangsungkan di salah satu ball room dengan semua kursi terisi. ”Ada 100 pengusaha China yang hadir, dan ini di luar perkiraan,” kata Hatta Rajasa. ”Salah satu perusahaan besar milik negara sudah menyatakan akan datang ke Jakarta dan berminat bertemu saya lagi,” tutur Hatta.

Pada umumnya, para pengusaha tersebut menggunakan penerjemah karena tidak bisa berbahasa Inggris. Namun demikian, mereka saling berebutan menyodorkan kartu nama dan berfoto bersama Menperdag dan Menko Perekonomian. Mari Pangestu yang paling banyak dikerubungi sehingga terhalang menyantap konsumsi dalam acara yang berlangsung sore hingga malam itu. ”Ya, mereka memang antusias,” kata Mari Pangestu.

Dari semua pengusaha China itu, setidaknya ada 34 perusahaan yang menyatakan berminat berbisnis di sektor pertambangan. Hatta Rajasa mengatakan, para pengusaha China tampaknya mengikuti perkembangan kebijakan di Indonesia, di mana daftar negatif investasi sudah semakin dihilangkan, demikian pula dengan segala perbaikan pelayanan sudah mereka ketahui.

Bisnis infrastruktur

Menyinggung soal prasarana yang menjadi salah satu kendala berinvestasi di Indonesia, Hatta mengajak para pengusaha China untuk menggeluti bisnis infrastruktur di Indonesia. ”Ada pengusaha China yang serius dan ingin segera menggeluti bisnis infrastruktur,” kata Hatta.

Menurut Mari Pangestu, para pengusaha China tersebut datang dari berbagai tempat di China, termasuk dari Yunan di China selatan, Fujian, Guangzhou, dan tentunya dari Shanghai.

Melihat antusiasme itu, muncul pertanyaan, mengapa investasi China belum begitu menonjol di Indonesia. Hatta mengatakan, investasi China di Indonesia, demikian pula perkembangan atau pertumbuhan perdagangan China-Indonesia, tergolong paling tinggi jika dibandingkan dengan pertumbuhan investasi dan perdagangan antara Indonesia dan non-China. ”Indonesia dan China bisa tumbuh bersama menjadi raksasa global dengan pendalaman kerja sama ekonomi,” kata Hatta Rajasa.

Akan tetapi diakui, pendalaman investasi dan perdagangan Indonesia-China belum maksimal. Hal itu juga termasuk akibat kurang gencarnya Indonesia dan China menjajaki hubungan perdagangan dan investasi, terlihat dari keberadaan jumlah kantor dagang kedua negara yang masih minim.

Menurut Atase Perdagangan Indonesia di KBRI China Marolop Nainggolan, sekarang baru ada dua kantor perwakilan Indonesia di China, yakni di Beijing dan Guangzhou. China juga masih memiliki kantor perwakilan di Surabaya, Medan, dan Jakarta. Singapura, Thailand, dan Malaysia bahkan memiliki lebih dari empat kantor perdagangan di China.

Persepsi lama

Terungkap juga bahwa salah satu penyebab investasi China belum menonjol adalah persepsi China sendiri bahwa Indonesia bukan negara aman, terutama bagi etnis China berdasarkan pengalaman Gerakan 30 September dan kenangan peristiwa kerusuhan Mei 1998. ”Masih ada dari mereka yang masih mengingat peristiwa itu,” kata Hatta Rajasa.

Menurut Mari Pangestu, kenangan buruk itu sudah dicoba dipupuskan dengan menunjukkan bahwa Indonesia sudah menjadikan Hari Raya Imlek sebagai hari libur nasional dan diizinkannya penggunaan bahasa China. ”Kita menegaskan kepada mereka bahwa Indonesia sudah mengalami kemajuan dan perbaikan yang jauh lebih baik dari persepsi mereka,” kata Mari.

Soal gangguan pada etnis China sebenarnya tidak saja terjadi pada masa lalu di Indonesia, tetapi juga masih melekat kuat di Malaysia. Namun demikian, jumlah turisme dan hubungan bilateral, baik perdagangan dan investasi Malaysia-China, jauh lebih pesat perkembangannya dibandingkan dengan antara China dan Indonesia.

Tampaknya hubungan bilateral Indonesia-China yang lebih lambat perkembangannya didasarkan pada sikap Indonesia yang kurang agresif dibandingkan tetangga ASEAN. ”Kita memang perlu melakukan promosi, termasuk dengan kehadiran Indonesia di World Expo Shanghai China 2010,” kata Mari.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: