jump to navigation

Pengusaha Peti Kemas Kecam Aksi May Day April 30, 2010

Posted by walhisultengnews in BERITA PUBLIK DAN KEBIJAKAN.
trackback

Pengusaha Peti Kemas Kecam Aksi May Day
Kamis, 29 April 2010 | 22:49 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com
— Sejumlah asosiasi dan pelaku usaha di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, mengecam rencana aksi demo besar-besaran yang dilakukan 400-an anggota Serikat Pekerja Terminal Peti Kemas Koja. Demo dilakukan pada 1-3 Mei mendatang, bertepatan dengan Hari Buruh Sedunia atau lebih dikenal dengan sebutan May Day. Akibat rencana aksi tersebut, sejak dua minggu terakhir ini, pelaku usaha mengaku telah menderita kerugian puluhan miliar, terutama akibat bentrok fisik antara warga dan Satpol PP pada insiden makam Mbah Priuk, Rabu (14/4/2010) silam.

Ketua Gabungan Forwarder, Logistik, dan Ekspedisi Indonesia (Gafeksi) DKI Jakarta Sofyan Pane, Ketua Organda Angkutan Khusus Pelabuhan (Angsuspel) Sudirman, dan Ketua INSA (Pelayaran) DKI Jakarta Alleson meminta agar serikat pekerja tidak hanya memikirkan kelompoknya, tetapi harus turut serta menjaga stabilitas perekonomian nasional. Sebab, jika terjadi aksi mogok, yang dirugikan justru pengusaha dan buruh pabrik lainnya karena barang-barangnya tidak bisa keluar pelabuhan.
Para pimpinan asosiasi ini menilai, alasan pekerja melakukan mogok terlalu berlebihan. Sebab, penghasilan pekerja di Koja sudah lebih baik dibanding dengan operator lainnya, seperti Multi Terminal Indonesia (MTI) dan PT Pelindo. “Menurut informasi, gaji pekerja di TPK Koja terendah Rp 4,2 juta per bulan. Sedangkan tertinggi mencapai Rp 16,7 juta. Mereka tidak melihat gaji pegawai PT Pelindo II yang justru jauh di bawah gaji mereka,” ujar Sudirman, Ketua Organda, Kamis (29/4/2010).
Hal serupa juga diungkapkan Ketua Gabungan Forwarder, Logistik, dan Ekspedisi Indonesia (Gafeksi) DKI Jakarta Sofyan Pane. Menurutnya, jika aksi mogok terjadi maka yang dirugikan tidak hanya operator terminal peti kemas Koja, tetapi juga ribuan pelaku bisnis sektor transportasi yang beroperasi di Pelabuhan Tanjung Priok.
“Kami mengharapkan tidak ada mogok. Kalaupun ada kebuntuan yang menyangkut hubungan industrial antara pekerja dan manajemen di TPK Koja, hendaknya bisa diselesaikan melalui Pengadilan Hubungan Industrial,” ujarnya.
Pekerja pelabuhan harusnya profesional dan tidak mengedepankan kepentingan kelompok, tetapi turut serta menjaga stabilitas perekonomian nasional. Boleh saja merayakan peringatan hari buruh, tetapi tidak perlu dengan mogok di pelabuhan. Sebab, bisa menghancurkan kegiatan ekonomi bangsa.
Demikian halnya diungkapkan Ketua Indonesian National Shipowners Association (INSA) DKI Jakarta C Alleson. Ia mengatakan telah menerima pemberitahuan rencana mogok pekerja di TPK Koja tersebut. Jika itu terjadi, perusahaan pelayaran akan menderita kerugian miliaran rupiah dalam tiga hari tersebut. Kerugian itu berasal dari terlambatnya waktu bongkar muat sehingga time charter kapal bertambah. Kondisi ini juga akan memengaruhi jadwal kunjungan kapal selanjutnya.
Alleson mengatakan, pada tanggal 1-3 Mei terdapat lima kapal pengangkut ekspor impor yang sudah terjadwal untuk sandar di dermaga TPK Koja. Saat ini perusahaan pelayaran harus membayar time charter kapal rata-rata mencapai 10.000 dollar AS per hari, belum lagi biaya tambat dan biaya operasional. “Kami juga telah diberitahukan bahwa pelayanan sandar kapal yang sudah terjadwal di TPK Koja akan dialihkan ke dermaga Olah Jasa Andal, selama mogok kerja berlangsung,” tuturnya.
Karena itu, ia mengimbau pekerja pelabuhan tidak melakukan mogok kerja karena risiko kerugian yang ditanggung pengusaha cukup besar, belum termasuk aktivitas pabrik yang terganggu akibat pasokan distribusi bahan baku industri terlambat. Sebab, kerugian yang sama dialami pelaku usaha saat terjadi bentrokan berdarah di makam Mbah Priuk, pekan lalu.
Terkait hal itu, Ketua Organda Angkutan Khusus Pelabuhan (Angsuspel) DKI Jakarta Soedirman mengatakan, rencana mogok di TPK Koja akan berdampak pada menganggurnya ratusan sopir pengangkut peti kemas yang kehilangan order. “Padahal, sistem kerja sopir diperoleh berdasarkan order harian. Kalau tidak beroperasi, berarti anak dan istri para sopir juga tidak bisa makan,” ujarnya.

Komentar»

1. mobil88 - April 30, 2010

boleh saja demo, asal….aspiratif, aman dan terkendali…hihihihi
Salam hangat dari http://mobil88.wordpress.com 😀

walhisultengnews - April 30, 2010

yoi Bro.. Urusan Keamanan Juga Menjadi Tugas dan Tanggung Jawab Yang Berwajib. He,he,he..
Salam.
Walhi Sulteng.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: