jump to navigation

Kemiskinan TakBisa Diatasi Sendiri April 27, 2010

Posted by walhisultengnews in BERITA PUBLIK DAN KEBIJAKAN.
trackback

PERTANIAN
Kemiskinan TakBisa Diatasi Sendiri

Selasa, 27 April 2010 | 04:57 WIB

Jakarta, Kompas – Kementerian Pertanian tidak akan mampu mengatasi masalah kemiskinan petani sendirian. Ini karena kontribusi Kementerian Pertanian dalam pembangunan pertanian hanya sekitar 20 persen. Sebagian besar ditentukan oleh sektor lain.

Oleh karena itu, Menteri Pertanian Suswono di Jakarta, Senin (26/4), mengharapkan muncul kesadaran bersama dari semua sektor untuk bersama-sama berkontribusi membangun pertanian guna mengatasi masalah kemiskinan para petani.

Dengan hanya memiliki skala usaha tani 0,3 hektar atau menjadi buruh tani, menurut Suswono, sulit menjadikan petani sejahtera. Hasil dari usaha tani tidak akan pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup petani dan keluarganya.

Oleh karena itu, inovasi yang diperlukan adalah bagaimana bisa menghasilkan produksi komoditas pangan di lahan 0,3 hektar dengan produktivitasnya setara dengan lahan 1 hektar.

Suswono optimistis dengan keterpaduan antarsektor, masalah pertanian bisa ditangani bersama. Misalnya, ketika petani memerlukan air, di kawasan hulu mana yang harus dikonservasi dan Kementerian Kehutanan memprioritaskan kawasan itu.

Begitu juga ketika petani memerlukan permodalan, dukungan Kementerian Keuangan juga ke sana. ”Saat ini, dalam APBN-P 2010 Kementerian Pertanian hanya mendapat alokasi dana Rp 61 miliar, bagaimana mau membangun pertanian,” kata Mentan.

Dukungan inovasi teknologi, seperti pembibitan, obat-obatan, pupuk, serta alat dan mesin pertanian, sangat diperlukan, juga sarana pascapanen, seperti alat pengeringan serta mesin penggilingan dan perontok padi.

”Bagaimana inovasi teknologi bisa menghasilkan alat pengering padi yang hemat energi, tidak harus dari bahan bakar minyak,” kata Mentan.

Terkait pemasaran, Bulog diharapkan dapat meningkatkan pengadaan gabah petani dengan menggiatkan unit penggilingan mereka. Dengan demikian, jaminan pasar dan harga bisa dinikmati petani karena harga gabah bagus.

Menurut Mentan, saat ini Kementerian Pertanian tengah menyusun cetak biru pembangunan pertanian jangka panjang.

Dalam cetak biru nanti akan dimasukkan peran sektor lain yang diperlukan dalam mendukung pembangunan pertanian, terutama dalam meningkatkan pendapatan petani kecil agar mereka tidak miskin lagi.

Menurut Suswono, salah satu upaya yang dilakukan Kementerian Pertanian dalam menolong petani agar tidak terperangkap dalam kemiskinan. ”Misalnya, dengan menggabungkan usaha tani tanaman pangan dengan ternak,” katanya.

Pentingnya dukungan sektor lain dalam pembangunan sektor pertanian juga disampaikan Ketua Program Studi Agribisnis Program Pascasarjana Universitas Jember Prof Soetrisno. Untuk itu, dibutuhkan keterpaduan program antarkementerian. ”Selama ini masing-masing departemen masih menunjukkan ego sektoral,” ujarnya.

Soetrisno juga melihat perencanaan pembangunan pertanian selama ini tidak utuh. ”Di pusat mungkin sudah bagus, tetapi sampai di daerah ada yang peduli, tetapi ada pula yang tidak. Ada daerah yang menganggap penting hingga menunjuk kepala dinas, tetapi ada daerah yang hanya menunjuk unit pelaksana teknis,” katanya.

Tidak melihat daerah

Kelemahan lain pembangunan pertanian, menurut pengajar Fakultas Pertanian Universitas Flores, Ende, Sri Wahyuni dan Murdaningsih, acap kali dilakukan seragam, tidak melihat kondisi spesifik daerah. Selain itu, daerah kurang bisa menjabarkan kebijakan pusat.

Sri mencontohkan, ketika pemerintah pusat menggelontorkan program bantuan benih jagung hibrida, daerah langsung menerima dan menjalankan. Padahal, di kawasan NTT yang tergolong beriklim semikering, dalam setahun musim hujan hanya 3-4 bulan dan musim kemarau 7-9 bulan, tanaman jagung hibrida butuh air.

Hal yang sama terjadi pada bantuan alat pengeringan padi dari pusat. Menurut Kepala Bidang Usaha Tani, Sarana, dan Prasarana Dinas Pertanian Jombang Hadi Purwantoro, pihaknya pernah mendapat bantuan dua mesin pengering gabah yang mampu mengeringkan 8 ton gabah sekaligus dalam waktu 10 jam.

Namun, mesin pengeringan itu diberikan kepada perusahaan penggilingan dan hingga tahun ini belum dimanfaatkan karena biaya operasionalnya besar.

”Bantuan alat pengering itu akhirnya tidak menyentuh petani karena yang memanfaatkan tengkulak,” kata Hadi. (MAS/SIN/SIR/SEM/THT)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: