jump to navigation

Donggi-Senoro,.. Pemerintah Jangan Utamakan Bangsa Lain April 23, 2010

Posted by walhisultengnews in BERITA PUBLIK DAN KEBIJAKAN.
trackback

Donggi-Senoro
Pemerintah Jangan Utamakan Bangsa Lain

Laporan wartawan KOMPAS Suhartono
Kamis, 22 April 2010 | 21:30 WIB
PALU, KOMPAS.com – Mantan Wakil Presiden RI Periode 2004-2009, Muhammad Jusuf Kalla, mengingatkan agar pemerintah jangan seperti kata pepatah, “Ayam Mati di Lubuk Pangan” dalam mengambil keputusan Proyek Pengembangan Minyak dan Gas Donggi-Senoro di Sulawesi Tengah.

Dengan kata pepatah ini, pemerintah harus mengutamakan 100 persen produksi Donggi-Senoro untuk kepentingan ketahanan energi dalam negeri. Pemerintah jangan mengutamakan bangsa lain. Sebab, energi gas domestik mengalami defisit. Diharapkan, pemerintah juga melakukan tender ulang agar mendapatkan biaya investasi yang murah dalam pembangunan kilang.

Demikian disampaikan Jusuf Kalla dalam perbincangan dengan pers saat penerbangan menuju Jakarta, seusai kunjungan kerja sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat PMI di Poso dan Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (22/4/2010) malam.

“Pemerintah jangan sampai mengulang kesalahan yang sama saat terjadi kekosongan gas alam di Pupuk Iskandar Muda (PIM) Aceh dan Proyek Tangguh di Papua. Memang kita bisa ekspor gas alam, akan tetapi industri pupuk kita tak bisa berproduksi. Kita bisa mengekspor, akan tetapi harganya murah seperti Tangguh. Karena itu, jangan sampai seperti pepatah ‘ayam mati di lubuk pangan’,” tandas Kalla.

Menurut Kalla, keinginannya agar hasil Donggi-Senoro tidak dieskpor sudah disetujui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu lalu. “Diharapkan pemerintah konsisten,” tambahnya.

Menurut Kalla, ekspor penting untuk devisa. Namun, berapa banyak jumlah beban APBN karena untuk membayar subsidi listrik akibat kita menggunakan diesel dan tidak adanya pupuk.

“Kalau kita tetap mengekspor, akan lebih banyak biayanya jika industri dalam negeri kita tidak jalan akibat tidak adanya gas alam. Selain kita kekurangan energi, belum lagi tutupnya lapangan kerja akibat industrinya mati karena tidak ada bahan baku. Industri mati, juga tidak ada pendapatan negara dari penerimaan pajak,” tambah Kalla.

Dikatakan Kalla, apabila pemerintah sudah menetapkan produksi Donggi-Senoro 100 persen untuk domestik, sebenarnya tidak ada masalah jika industri dalam negeri juga membeli gas alamnya dengan harga yang sama jika akan diekspor ke luar negeri.

“Kalau mau diekspor dengan harga 6 dollar AS per MMBTU dan industri dalam negeri pun ditawarkan harga yang sama, juga tidak ada persoalan,” lanjutnya.

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: