jump to navigation

Pemerintah Tak Libatkan Petani. Permentan Sebaiknya di Batalkan April 20, 2010

Posted by walhisultengnews in BERITA PUBLIK DAN KEBIJAKAN.
trackback

Pemerintah Tak Libatkan Petani. Permentan Sebaiknya di Batalkan

Jakarta, Kompas – Kementrian pertanian mengakuti tidak melibatkan petani ataupun organisasi tani dalam proses penyusunan draft peraturan menteri pertanian tentang pedoman perijinan usahan budidaya tanaman pangan.
Meski demikian, kewajiban untuk mendaftarkan jenis usaha tani dan luasnya secara aktif dilakukan oleh bupati/walikota, bukan petani. Hal itu diungkapkan pelaksana tugas Direktur Jendral Tanaman Pangan Kementrian Pertanian Gatot Irianto di Jakarta, Senin (19/4), menanggapi reaksi keras petani dan orgnaiasi tani atas rencana kewajiban pendaftaran usaha tani pangan Bupati/Walikota.

Gatot menyatakan, kewajiban pendaftaran usaha tani untuk skala usaha kurang dari 25 hektar dan melibatkan tenaga kerja tetap kurang dari 10 orang ada pada bupati/walikota, bukan pada petani.
Ditanya jaminan yang bisa di berikan pemerintah pusat bahwa nantinya bukan petani yang harus mendaftar, tetapi pemerintah daerah, gatot menyatakan, sebagai konsekuensi dari keluarnya permentan, pemda harus mengeluarkan kebijakan turunan.
Kebijakan itu juga harus terefleksi pada alokasi kebijakan anggaran untuk pendataan usaha tani. Dengan melakukan pendaftaran, akan diketahui jenis komoditas yang ditanam, luas usaha tani dan ham penyakit yang mewabah.
Ditanya alas an tidak dilibatkan petani dilibatkannya petani dan organisasi tani dalam penyusunan draft permentan, Gatot berdalih, dalam permentan yang diatur adalah investor atau swasta dengan skala usaha lebih dari 25 hektar. “karena tidak mengatur petani kecil, tidak masalah (tidak melibatkan mereka),” ungkap Gatot.
Hanya Soal Teknis.
Sekretaris Direktorat Jendral Tanaman Pangan Udhoro Kasih Anggoro juga mengakui bahwa penyusunan Permentan tidak melibatkan petani.
“karena ini baru tahap pertama, belum melibatkan petani dan orgnaisasi tani, nanti, dalam tahap kedua, sosialisasi, kami akan undang petani, organisasi tani dan media massa katanya, Anggoro beranggapan bahwa pelibatan petani dan organisasi tani hanya soal teknis pemanggilan.
Dalam draft permentan yang diterima Kompas, terlihat sudah final. Permentan yang diterima Kompas, terlihat sudah final. Permentan itu itu memuat 10 Bab dan 46 Pasal. Pada lembaran terakhir, tertera secara rinci kolom tandan tangan menteri pertanian Suswono. Kolom tunggal diundangkan, kolom tanda tangan menteri hokum dan HAM Patrialis Akbar, lengkap dengan kolom nomor untuk berita Negara.
Menanggapi aturan baru, petani dari Yogyakarta akan menanam padi untuk keperluan sendiri dan tidak untuk dijual.
Petani Jawa Barat juga menolak aturan itu, Udju tarmidji (37) petani pemilik lahan di Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsorang, Kabupaten Bandung mengatakan, jika diterapkan aturan tersebut akan sangat menyulitkan petani. “kenapa petani sekarang justru dibebani persoalan administrative yang membebani?” ujarnya.
Petani dan pemilik lahan seluas 1,5 Hektar di Desa Rancaekek, Kabupaten Bandung, Undang Suharna (51), tidak setuju kalau aturan itu dijalankan.
Guru Besar Ekonomi Industri Pertanian Universitas Gadjah Mada M Maksum mengatakan pendataan memang perlu, tetapi bukan urusannya petani kecil, birokrasi harus proaktif melakukan pendataan, “membangun pertanian harus berdasarkan kesepahaman itulah “local wisdom” katanya.
Maksum meminta aturan itu ditarik saja. “membuat repot petani miskin, tanah terbatas, dan belum tentu untung masih harus lapor.” Katanya.
Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Jawa Barat Oo Sutisna ragu Bupati/Walikota mampu menjalankan aturan baru ini.
Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) juga secara tegas menolak aturan baru tersebut. Ketua Umum DPP APTRI Abdul Wachid menyatakan, Permentan itu akan mengebiri petani, padahal, seharusnya petani bebas menanam jenis komoditas. (MAS).

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: