jump to navigation

Kawasan Tangkapan Air Terganggu, Kurangnya Pasokan Air Picu Gagal Panen April 17, 2010

Posted by walhisultengnews in LAPORAN PUBLIK WALHI SULTENG.
trackback


Kawasan Tangkapan Air Terganggu, Kurangnya Pasokan Air Picu Gagal Panen

Kabar tidak mengejutkan datang dari Dinas Kehutanan Provinsi yang menyampaikan pemaparannya pada peserta Pokja BKPRD Sulawesi Tengah tentang Neraca Sumber Daya Hutan Sulawesi Tengah Tahun 2009. Luas Hutan Sulawesi Tengah telah menyusut dari sebelumnya berdasarkan SK Menhut No. 757/Kpts-II/1999, tanggal 23 September 1999 luas kawasan hutan Sulawesi tengah adalah 4.394.932 Ha, telah terjadi penyusutan yang terbukti pada catatan saldo aeal (persediaan) tahun 2009 ini hanya tersisa seluas 3.779.429,49 Ha. Neraca sumber daya hutan (NSDH) merupakan instrument tingkat pemanfaatan hutan dan pembinaan hutan sehingga dapat berfungsi sebagai salah satu alat pengendali dalam pengelolaan SDH yang lestari. Penambahan (aktiva) penutupan lahan kegiatan reboisasi dari tahun 2003 s/d 2007 yang dilakukan dalam kawasan Hutan Lindung pun tidak berpengaruh signifikan dari rencana 2.410 Ha hanya terealisai 275 Ha (statistik BPDAS Palu-Poso tahun 2007).

Kabar lain yang sekaitan dengan penyusutan kawasan hutan adalah publikasi oleh Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Morowali pada februari 2009 lalu, yang menyebutkan bahwa Kabupaten Morowali dikategorikan daerah rawan pangan nasional memang cukup beralasan. Akan tetapi penyebab utamanya tidak hanya pada aspek kesadaran petani semata, pengurangan lahan pertanian produktif akibat konsentrasi pengelolaan lahan banyak di konversi menjadi areal konsesi tambang dan perkebunan sawit juga tidak bisa dipungkiri. Jelas bahwa ancaman dari sektor pertambangan dan perkebunan sawit ini adalah pengurangan lahan, penyempitan basis produksi,serta perubahan pola dan basis produksi masyarakat disekitar wilayah ekspansinya.
Tidak hanya itu saja, dampak ekspansi pertambangan dan perkebunan sawit menjadikan masalah gagal panen sesuatu yang tak terhindarkan, sejumlah daerah lumbung padi di Sulawesi Tengah mengalami hal ini. Sebut saja Poso, Parigi-Moutong, Sigi Biromaru, Donggala dan Tojo Una-una. Sejumlah petani di Kabupaten Sigi mengeluh karena hasil pertanian mereka gagal panen, menurut petani gagal panen kali ini disebabkan iklim cuaca yang tidak menentu serta jadwal tanam yang dikeluarkan Dinas Pertanian tidak sesuai lagi dengan kondisi saat ini.
Tak berbeda jauh halnya dengan Kabupaten Poso. Selama 6 bulan debit air sungai berkurang akibat penghisapan aitr dengan menggunkan pipa besar dan menggunakan mesin alcon. Penghisapan dilakukan setiap hari pada jam 7 pagi, jam 3 sore dan jam 8 malam. Mengakibatkan 15 Ha milik 19 kk yang merupakan petani sawah tidak bisa lagi menanam padi sejak pemasangan alcon. Sehabis panen di bulan Apeil, Bulan Mei Tahun 2009 yang rencananya akan ditanami sudah tidak bisa lagi diakibatkan kekurangan air untuk pengairan air di sawah. Yang diakibatkan karena muism panas, dan mesin alcon yang dipakai PT. SJA 2 untuk penghisapan air guna pemeliharaan pembibitan sawit. Pemasangan pipa air di sungai tempat pengairan sawah dengan memakai alcon tanpa ada sosialisasi dari masyarakat desa Tiwaa. Dengan akan dibukanya lahan seluas 500 Ha akan berdampak daerah meraka sering terkena banjir. Karena adanya penebangan besar, belum lagi kalau musim kemarau, sawah masyarakat setempat akan kekurangan air. Kebanyakan sawah masyarakat sekarang rusak dan gagal untuk dipanen karena terkena banjir. Belum lagi bendungan sungai Sausu rusak karena sering banjir, berpengaruh terhadap pembangian air ke sawah. Menurutnya lagi sampai saat ini, daerah-daerah tesebut sering terkena dampak banjir akibatnya lahan sawah masyarakat banyak rusak dan gagal panen.
Tidak berbeda halnya dengan aktifitas Penambangan yang saat ini telah berlangsung di Poboya setahun terakhir. Keluhan beberapa pihak seperti PDAM Kota Palu bahwa telah terjadi kerusakan pipa yang sudah tiga kali di temukan di Poboya. Macetnya air PDAM Palu diduga disebabkan adanya penyadapan dari aktifitas alat tromol yang menggunakan air dilokasi penambangan. Sehingga debit air yang samapi ke pelanggan sangat berbeda dengan debit dari bak penampungan yang ada di Poboya. Hal ini tentu saja tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, selain itu kerentanan kondisi ekologis wilayah Pobiya dan sekitarnya juga perlu menjadi perhatian serius. Poboya merupakan satu-satu Water Catchment area yang paling besar di Kota Palu, sehingga jika keseimbangan ekologinya terganggu maka dampak yang timbul akan sangat dirasakan tidak hanya masyarakat penambang saja tetapai juga masyarakat Kota Palu secara luas.

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: