jump to navigation

Sulawesi Tengah, Swasembada Pangan Atau Swasembada Beras..!!? April 16, 2010

Posted by walhisultengnews in LAPORAN PUBLIK WALHI SULTENG.
trackback

Sulawesi Tengah.Swasembada Pangan atau Swasembada Bencana

cita-cita swasembada pangan Sulawesi Tengah selalu disuarakan oleh pemimpin daerah ini dalam berbagia kesempatan, baik ditingkat lokal, regional bahkan internasional. hal ini tentu saja berdasar, jika menoleh sejenak ditahun 1984, Sulawesi Tengah sudah mulai berswasembada beras dan menjadi salah satu daerah pemask stok beras nasional dari 19 Provinsi di Indonesia, bahkan produksi rata-rata yang dihasilkan daerah ini kurun lima tahun terakhir mencapai lebih 550 ribu gabah kering giling, atau terdapat surplus lebih 100 ribu ton tiap tahunnya. sampai dengan tahun 2008 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah produksi padi sawah yang dihasilkan setiap tahunnya mencapai 726.714 ton/ha. jumlah padangan lainnya seperti jagung mencapai jumlah produksi 67.617 ton/ha, ubi kayu mecapai jumlah produksi 48.225 ton/ha. dari gambaran ini ternyata hasil pertanian Sulawesi Tengah sangat menjanjikan secara ekonomi.

namun bencana yang terjadi di beberapa wilayah di Sulawesi Tengah jelas berpengaruh terhadap ketahanan pangan. wilayah yang dilanda bencana banjir dan tanah longsor disertai badai tersebut merupakan daerah basis produksi pangan, sehingga terjadinya bencana besar di daerah basis produksi tersebut, berdampak luas terhadap pasokan pangan Sulawesi Tengah. hal inilah yang dapat memicu krisis pangan terjadi didaerah ini cepat atau lambat. selain itu, ekspansi pertambangan perkebunan sawit berjalan seiring dengan konflik lahan yang meningkat akibat terjadinya alih fungsi lahan-lahan pertanian produktif masyarakat ke perkebunan sawit. dari catatan Walhi Sulteng sejak tahun 1995, sudah ada catatan kasus penggusuran lahan pertanian warga baik dari areal persawahan maupun tanaman kakao yang kemudian diganti sawit. beberapa kasus diberbagai wilayah ekspansi sampai saat ini belum terselesaikan dengan baik.

Memang tak dapat di pungkiri Sulawesi Tengah memiliki tanah yang luas dan subur, tak hanya itu saja Sulawesi Tengah juga memiliki harta terpendam yang luar biasa menggiurkan hingga tak kuasa membendung keinginan orang lain untuk menguasainya. lihat saja berbagai kepemilikan konsesi yang disetujui pemerintah pusat maupun daerah melalui Kontrak Karya (KK) pertambangan, Kuasa Pertambangan (KP) serta SIPD. demikian pula Hak guna Usaha (HGU) untuk perkebunan skala besar macam sawit dengan penguasaan lahan yang tak tanggung-tanggung hingga puluhan ribu hektar luasnya. sepertinya tergambar jelas bahwa eksploitasi SDA menjadi suatu keharusan demi kepentingan ekonomi untuk pencapaian target pendapat Asli Daerah (PAD).

Kebijakan Pemerintah pun sangat menunjang dalam mengejar target PAD dengan selalu mengedepankan kepentingan ekonomi diatas kepentingan lainnya termasuk kepentingan ekologis. keran investasipun dibuka lebar demi memuluskan instruksi Presiden, Inpres Nomr 7 tahun 2008 tentang Program Percepatan Pembangunan Sulawesi Tengah 2008-2010. Otonomi daerah juga berkontribusi memberi ruang yang seluas-luasnya terhadap eksploitasi sumber daya alam yang di amini oleh pemerintah pusat. untuk kasus ini perbedaan sentralisasi dan desentralisasi menjadi samar pada prakteknya. tak hanya itu, kebijakan-kebijakan ini ternyata beriringan dengan kebijakan investasi yang membidik kawasan timur Indonesia sebagai target ekspansinya dan Sulawesi Tengah tidak luput dari wilayah operasi investasi tersebut.

kebijakan investasi ini justru telah meminggirkan sektor pertanian, khususnya pertanian pangan masyarakat. maraknya investasi sektor pertambangan dan perkebunan skala besar di Sulawesi Tengah 2 (dua) tahun terakhir menjadi penyebab utama karena ekspansi industri ini tidak dibarengi dengan komitmen transparansi proyek, baik secara prosedural maupun komitmen dalam menjamin kelestarian lingkungan industri pertambangan dan perkebunan sawit, adalah sektor usaha yang rakus lahan dan juga rakus pasokan air, sementara rakyat kembali di posisikan tidak berdaya mempertahankan sumber-sumber produksi pangannya lagi-lagi masalah ekonomi yang menyulitkan mereka sehingga pilihan-pilihan instanpun akhirnya dijalani termasuk menjual lahan pertanian untuk indusrti pertambangan dan perkebunan sawit.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: