jump to navigation

Pengantar Laporan Publik Tahun 2009 April 16, 2010

Posted by walhisultengnews in LAPORAN PUBLIK WALHI SULTENG.
trackback

Tahun 2009 adalah tahun yang paling banyak tantangan bagi saya. begitu juga bagi sebagian orang, ketika tahun ini begitu banyak masalah yang terjadi dan membutuhkan respon cepat agar tidak berlarut-larut atau mungkin malah terabaikan. sedikit terlintas “yel-yel” para kandidat Capres dan Cawapres pada pemilu Juni 2009 lalu, yang oleh sebagian orang kemudian dirangkai menjadi kalimat seperti ini Lanjutkan, Lebih cepat lebih baik dan yang penting harus Pro Rakyat. Akhirnya kembali di lanjutkan hanya sayangnya tidak lebih cepat, lebih baik dan pro rakyat.

mari kita lihat sulawesi tengah ditengah mimpinya ingin menjadi daewrah swasembada pangan malah disibukan dengan berbagai investasi disektor pertambangan dan perkebunan sawit. hal ini tentu saja tidak bisa hanya dinilai secara ekonomis semata tapi juga faktor penunjang lainnya seperti kondisi sosial, budaya, dan daya dukung lingkungan.
Bencana pun datang bagai cerita bersambung yang tak berujung karena selama kurun waktu 3 tahun terakhir hingga tahun 2009 ini. banjir, longsor hingga kekeringan telah menimbulkan korban materil dan puluhan nyawa hingga ratusan jiwa diberbagai daerah. konidisi ini juga semakin di perparah dengan bencana akibat cuaca buruk yang mengakibatkan petani sering mengalami gagal panen (puso). daerah yang terkena banjir dan tanah longsor serta badai selama ini yang merupakan daerah basis produksi pertanian. dari analisis media yang dilakukan Divisi Advokasi Kampanye Walhi Sulteng, bencana alam yang terjadi pada bulan Januari 2009 disuatu Kabupaten bisa menimbulkan kerugian materil yang tidak sedikit diantaranya 29 unit Rumah Rusak, 6 Unit Irigasi, 34 Anak Sungai Terkikis, persawahan 500 Ha dan 1 Unit jembatan terputus akibat banjir.

Masalah gagal panen juga menjadi hal yang tak terhindarkan, sejumlah daerah lumbung padi di Sulawesi Tengah mengalami hal ini. sebut saja Poso, Parigi Moutong, Sigi Biromaru, Donggala dan Tojo Una. sejumlah petani di Kabupaten Sigi mengeluh karena hasil pertanian mereka gagal panen, menurut para petani, gagal panen kali ini disebabkan iklim cuaca yang tidak menentu serta jadwal tanam yang dikeluarkan oleh Dinas Pertanian tidak sesuai dengan kondisi saat ini. sebagaimana diketahui terjadinya perubahan iklim atau cuaca juga disebabkan oleh perusakan ekosistem lain, seperti pembalakan hutan.

Tak berbeda jauh halnya dengan Kabupaten Poso, selama 6 Bulan Debit air sungai berkurang akibat penghisapan Air dengan menggunakan Pipa besar dan memakai mesin Alcon, Penghisapan dilakukan setiap ham 7 pagi, jam 3 Sore dan jam 8 malam, mengakibatkan 15 Hektar milik 9 KK yang merupakan petani sawah tidak bisa lagi menanam padi sejak pemasangan alcon. sehabis panen di bulan April, Bulan Mei tahun 2009 yang rencananya akan di tanami sudah tidak bisa lagi diakibatkan kekurangan air untuk pengairan di sawah. yang diakibatkan karena musim panas, dan mesin alcon yang di pakai PT SJA 2 untuk penghisapan air guna pemeliharaan pembibitan sawit. pemasangan pipa air disungai tempat pengairan sawah dengan memakai alcon tanpa ada sosialisasi dari masyarakat desa Tiwaa. dengan akan dibukanya lahan seluas 500 H akan berdampak daerah mereka sering terkena banjir, karena ada penebangan besar. belum lagi kalau musim kemarau, sawah masyarakat setempat akan gagal untuk dipanen karena terkena banjir, berpengaruh terhadap pembagian air kesawah. menurutnya lagi sampai saat ini, daerah daerah tersebut sering terkena banjir akibatnya lahan sawah masyarakat banyak rusak dan gagal panen. dalam sebulan bisa sampai beberapa kali terjadi banjir diwilayah mereka. sebelumnya lokasi seluas 9.775 Ha ini sudah dicanangkan oleh Gubernur Walhi Sulawesi Tengah HB. Paliudju pada tanggal 25 Agustus 1996 untuk pemukiman dan pertanian, namun oleh Pemerintah Kabupaten Poso pada tahun 2008 lalu diberikan ijin lokasi bagi perkebunan kelapa sawit PT. Sawit Jaya Abadi (Astera Group) seluas 8.500 Ha. selain itu, dari laporan masyarakat dan hasil tinjauan lapangan DPRD Kabupaten Poso, bahwa PT Sawit Jaya Abadi dengan hanya bermodalkan ijijn lokasi dari Bupati Poso dan baru melakukan sosialisasi rencana AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) sudah melakukan operasi/aktivitas dilapangan seperti membangun tempat persemaian bibit sawit (Walhi Sulteng 2008).

Jauh hari sebelumnya sudah diingatkan bahwa daerah-daerah eksplorasi mineral yang ditunjuk berdasarkan kuasa pertambangan (KP) yang telah dikeluarkan merupakan daerah rawan bencana dengan tingkat rata-rata 40%. salah satu contoh menurutnya adalah terbitnya KP diwilayah desa dan beberapa desa di Kecamatan Bunta. padahal dalam dokumen rencana tata ruang wilayah Kabupaten Banggai 2003-2013 dinyatakan sebagai kawasan yang sering labil ketika musim hujan tiba, selain itu pada formasi Poh terdapat lempung yang bersifat mengembang (sweliling) yang terdapat menyerap air dengan volume hingga lebih dari 30%, sehingga lempung akan mengembang dan pecah yang mengakibatkan terjadinya longsor.
belum lagi sedikitnya ada 24 titik api tesebar di enam Kabupaten. Titik api tertangkap satelit NOAA 18 yang digunakan BMKG khusus untuk memantau titik api. melalui Fire Danger Rating System, tertangkap titik api paling banyak ditemukan di Kabupaten Morowali dengan 7 titik api. sementara ada 5 titik api di Kabupaten Banggai Kepulauan, 4 titik api di Kabupaten Poso, 1 titik api di Kabupaten Toli-Toli dan 2 titik api di Kabupaten Buol.

Sementara menurut Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) merupakan satu-satunya Propinsi yang mampu melampaui target nasional sebab telah berhasil menurunkan jumlah masyarakat miskin hingga 7,8 persen. hal ini disampaikan dalam siaran persnya usai memimpin upacara HUT Proklamasi ke 64, dihalaman upacara Gubernur.
Pembiaran terhadap proses pengalihan lahan pencanangan untuk pertanian menjadi lokasi perkebunan kelapa sawit seperti yang terjadi di Poso misalnya adalah kasus yang kesekian kalinya berulang seperti diwilayah lain yang lebih dahulu dirambah oleh perusahaan perkebunan sawit. kondisi ini tentu saja semakin memprihatinkan karena mengancam sumber pangan masyarakat, selain itu juga hal ini juga sangat erat kaitannya dengan dampak lingkungan seperti tingkat kualitas tanah dan pasokan air bersih yang akan semakin menurun serta konflik kepemilikan lahan.

semoga melalui Laporan Publik ini sebagian besar masyarakat tercerahkan tentang kondisi lingkungan Sulawesi Tengah saat ini. sebab menurut kawan saya, ceritakanlah keprihatinanmu kepada orang lain agar keprihatinanmu itu tidak menjadi milikmu sendiri.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: