jump to navigation

Kerusakan Lingkungan Galian C di Desa Meko April 16, 2010

Posted by walhisultengnews in LAPORAN PUBLIK WALHI SULTENG.
trackback

Desa Meko berada di sebelah barat sekitar pinggiran Danau Poso yang dimekarkan pada tahun 2004 sebagai ibu kota Kecamatan Pamona Barat yang di sebelah Utara Desa ini berbatasan langsung dengan Desa Salukaia, sebelah timur berbatsan langsung dengan Danau Poso, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Taipa dan di sebelah barat berbatasan dengan pegunungan Marari, selain itu desa ini juga terletak diatara S 01’53’13,0” dan E 120’31’29,4”, dan memiliki ketinggian dari permukaan air laut sekitar 522 m sehingga cocok menjadi daerah perkebunan kakao dan persawahan serta budidaya perikanan.

Masyarakat desa ini umumnya mengenyam bangku sekolah dari sekolah dasar (SD) sampai dengan sekolah Tinggi Menengah Atas (SMA), yang memiliki jumlah penduduk sekitar 3007 jiwa dan terbagi atas 1560 laki-laki dan 1447 perempuan, dari tingkat pekerjaan sebagian besar adalah petani yang mencapai 90% dari jumlah penduduk dari 0,5% yang menjadi buruh tani atau yang tidak mempunyai tanah. Selain itu kondisi suku yang beragam seperti suku Pamona, Bali, Jawa, Flores, Kaili, Manado, Sanger, dan Toraja, menjadikan desa ini semakin menarik karena penuh dengan keunikan budaya masing-masing serta hidup damai berdampingan anatar suku yang berbeda. Karena terletak di tepian Danau Poso desa ini juga memiliki kondisi yang baik untuk budidaya ikan seperti ikan mujair, lele dan beberapa jenis ikan tawar lainnya yang juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi,

Dalam perjalanan-nya desa meko sangat kaya akan sumber daya alam, posisinya yang teletak di antara belahan sungai Meko juga memberikan pesona selain disektor pertanian disini mereka juga memiliki bahan material pasir yang biasa disebut Galian C yang sekarang mejadikan desa meko sebagai salah satu penyuplai bahan material ke PT Bukaka untuk pembangunan mega proyek PLTA Poso.
B. Kerusakan Lingkungan & Dampak Sosial Bagi Masyarakat.

a. Kerusakan Lingkungan.

Dalam kurun waktu 1 tahun terakhir kondisi sungai Meko sudah sangat mengkhawatirkan pasalnya, dari pemantauan terakhir masyarakat di desa ini, posisi eksploitasi pasir berada tepat di badan sungai dan sampai dengan saat ini sudah meimbulkan beberapa dampak besar bagi masyarakat setempat seperti berkurangnya wilayah desa, sekitar 8 KK kehilangan rumah karena diterjang banjir, kondisi sungai yang dulunya kurang lebih 100 m sekarang menjadi sekitar 200 m, dan pengurangan areal perkebunan coklat masyarakat yang rata 1 Ha – 2,5 Ha musnah dan menjadi pelengkap dampak dari pertambangan galian c di desa tersebut.

Perubahan bentang alam juga terjadi akibat dari eskploitasi pasir di sungai Meko sehingga menimbulkan pendangkalan di sekitar bawah jembatan yang kemudian turun hujan air meluap dan masuk kerumah-rumah masyarakat.. Pertambangan ini dinilai illegal karena tidak mempunyai surat izin pertambangan daerah (SIPD), Izin yang katanya dipunyai oleh BUMDES yang tepatnya dibawah jembatan digunakan hanya secara individu Ko Ciu yang buka badan usaha, namun yang janggalnya pihak pengelola BUMDES menggali material pasir di atas jembatan sehingga meimbulkan pendangkalan sungai dan tidak pernah melakukan sosialisasi ANDAL kepada masyarakat, oleh karena itu patut di curigai bahwa izin pertambangan yang ada di bawa jembatan tidak mempunyai ANDAL.

Kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh eksploitasi tambang yang secara berlebihan menimbulkan dampak yang sangat besar terhadap masyarakat sehingga perlu ditinjau kembali izin yang ada dan menindak tegas perusahaan-perusahaan yang merusak lingkungan desa Meko.

b. Dampak Sosial.

Terjadinya konflik hozintal ditingkatan masyarakat dan Pemerintah desa setempat seperti yang terjadi pada sekitar bulan April 2009 aksi pertama dilakukan masyarakat dengan memblokir jalan pengambilan pasir, yang dikawal aparat keamanan dari Polsek Pamona Barat, masyarakat menuntut agar perusahaan yang mengelola tambang bisa menormalisasikan air sungai sehingga jika terjadi hujan air tidak lagi masuk kepemukiman warga dan transparansi pengelolaan dana dari pihak BUMDES yang mengelola galian c tersebut untuk segera di pertanggung jawabkan kepada masyarakat, selang beberapa hari aksi pemblokiran kapolsek Markus Kerebungu dan pemeritah desa setempat, meminta kepada masyarakat untuk membuka kembali pertambangan tersebut dan mengancam masyarakat yang memblokir jalan akan ditangkap sehingga masyarakat mau membuka kembali jalan.

Pada bulan Desember tahun 2009 aksi kedua kembali terjadi dalam aksinya masyarakat kembali memblokir jalan sehingga menghambat aktifitas pengangkutan material ke PT Bukaka. Hal tersebut kemudian mendapat respon dari aparat Pemeritah setempat untuk segera membuka kembali jalan dengan jaminan pelaporan pertanggung jawaban, namun laporan tersebut menurut masyarakat semuanya fiktif karena tidak sesuai dengan kondisi yang ada dilapangan.

Masyarakat kemudian kembali melakukan aksi ketiga pada tanggal 24 Januari tahun 2010 kondisi perpolitikan ditingkatan masyarakat sudah mengarah kepada kepala desa untuk segera turun dari jabatannya karena di duga korupsi BUMDES dan Alokasi Dana Desa (ADDes) serta memecat ketua BPD, sehingga masyarakat berencana melakukan hearing di DPRD Poso untuk menuntut kepada semua pihak untuk bertanggung jawab atas kerugian yang dialami masyarakat selama ini.
Dalam kasus ini disinyalir beberapa oknum pemerintahan seperti Kepala Desa dan juga Kapolsek di duga berkonspirasi untuk mendapatkan keuntungan dari galian c yang illegal tersebut karena terkesan melindungi dan mengintimidasi masyarakat untuk menuntut haknya.

C.
D. Ancaman Bagi Masyarakat

Ancaman terhadap sumber daya alam dan ekosistem yag di sebabkan eksploitasi oleh perusahaan tersebut bagi masyarakat ialah :

1. Perubahan aliran dan badan sungai serta kerusakan ekosistem yang berada di sepanjang wilayah sungai Meko yang sewaktu-waktu jika terjadi banjir dikhawatirkan akan mengancam masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai desa tersebut.
2 Hancurnya wilayah penyangga dan ancaman terhadap banjir.
3. Pencemaran dan pendangkalan Danau Poso.
4. Pengurasan terhadap sumber daya mineral di wilayah hulu sungai Meko, yang telah mengancam pemukiman dan lahan perkebunan warga bila banjir datang di musim penghujan.

Sedangkan sengketa atas tanah yag terjadi akibat peguasaan eksploitasi yang berlebihan di sungai Meko mengakibatkan dampak negative antara lain :

1. Pengurangan atas wilayah desa dan perkebunan coklat masyarakat yang diakibatkan oleh banjir sebagai dampak aktifitas eksploitasi di badan sungai, sehingga merugikan masyarakat desa Meko.

E. Tuntutan-Tuntutan Masyarakat.

Sebagai bentuk kekesalan masyarakat terhadap pihak perusahaaan yang mengekspolitasi sumber daya alam yang merugikan desa Meko masyarakat menuntut :

1. Stop tambang galian c illegal dan tinjau kembali izin pertambangan galian c yang ada.
2. Ganti rugi lahan yang telah dialami oleh masyarakat
3. Segera normalisasi air sungai desa Meko.
4. Menindak tegas perusahaan-perusahaan yang telah merusak dan mencemari lingkungan dan ekosistem ruang masyarakat.
5. Pemerintah segera mengeluarkan peraturan yang tegas tentang pertambangan galian c yang berpihak kepada masyarakat desa Meko.

Komentar»

1. leo - Mei 2, 2010

masukan untuk perbaikan lingkungan kecamatan pam-bar meko….,,,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: